Jakarta –
Di saat mesin dan teknologi perlahan menggantikan tenaga manusia, suara mesin jahit tua masih bertahan di pinggir jalan Jakarta. Masih ada sosok-sosok terampil yang bertahan hidup dengan kemampuan tangan mereka.
Para tukang jahit keliling duduk di bawah payung sederhana, mengandalkan keterampilan tangan untuk menyambung hidup di tengah derasnya modernisasi kota, contohnya seperti yang ada di tepi Jalan Raya Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Berdasarkan pantauan detikcom di lokasi, Senin (5/1/2026), terdapat 15 sepeda gerobak jahit keliling berjajar di sepanjang sisi Jl. Raya Jagakarsa. Mereka tampak berkumpul mulai dari dekat Pasar Lenteng Agung hingga persimpangan Jl. Jeruk Raya. Selain itu terlihat juga ada beberapa gerobak jahit lainnya yang tertutup terpal tanpa kehadiran tukang di dekatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antara satu penjahit dengan yang lain hanya berjarak beberapa meter, masing-masing menunggu pelanggan datang bawa pesanan jasa. Pagi ini, tak sedikit di antara mereka yang tengah mengerjakan pesanan pelanggan.
Beberapa di antaranya bekerja sembari ditemani pelanggan yang duduk di atas motor yang terparkir di pinggir jalan dekat lapak jahit atau bangku plastik yang sudah tersedia. Sementara yang lainnya tampak dengan serius mengerjakan pesanan tanpa kehadiran si pembawa cuan.
Tukang Jahit Jalanan di Jakarta Foto: Ignacio Geordy Oswaldo |
Tangan para tukang jahit bergerak cekatan mengarahkan kain ke mesin jahit tua di atas meja kayu sederhana. Di sampingnya berbagai alat jahit seperti meteran, gunting, benang, serta potongan kain tersimpan rapi.
Aktivitas berlangsung tanpa sekat, langsung menghadap jalan raya yang ramai dilalui kendaraan. Tak jarang truk, mobil dan sepeda motor hingga angkutan umum melintas dengan jarak tak sampai meter dari lapak jahit.
“Mangkal di sini biasanya sekitar pukul 10.00 sampai sebelum magrib. Kalau keliling biasanya dari jam 07.00, kadang-kadang kalau lagi mau. Kadang-kadang keliling dulu baru mangkal di sini,” kata salah satu penjahit di Jl. Raya Jagakarsa, Hari (33).
Begitu juga dengan Lasmina (34), penjahit keliling lain yang biasa mangkal di sekitar Jl. Raya Jagakarsa ini. Sehari-hari ia juga mangkal sekitar pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.
“Kalau di sini suka ada Satpol PP, nggak boleh mangkal jam tujuh, delapan, sampai sembilan lah. Soalnya ini jalan ramai kan. suka macet pas pagi, jadi rata-rata baru pada datang rada siang,” ucapnya.
Tonton juga video “Tukang Jahit di Pekalongan Kaget Didatangi Petugas Pajak soal Transaksi Rp 2,9 M”
(igo/fdl)
