Jakarta –
Dalam mengelola keuangan pribadi maupun keluarga, utang sering kali terdengar seperti sesuatu yang harus dihindari. Banyak orang yang menganggap utang sebagai beban atau sumber masalah.
Padahal jika digunakan dengan bijak dan benar, utang bisa menjadi salah satu alat finansial yang membantu meningkatkan kondisi keuangan pribadi serta mewujudkan tujuan hidup.
Sebagai contoh utang bisa menjadi alat bantu untuk membeli rumah, kendaraan, membangun usaha, atau memenuhi kebutuhan pendidikan. Sehingga yang pelu diperhatikan bukan apakah seseorang memiliki utang atau tidak, tetapi seberapa besar utang dimiliki agar mampu dikelola dengan sehat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir situs resmi DBS digibank, untuk memiliki rasio yang baik atau ideal besaran utang harus lebih rendah dari jumlah pendapatan per bulan. Nilai yang ideal juga berdampak pada finansial yang stabil di kemudian hari.
Nilai rasio utang terhadap pendapatan ini dapat dihitung dengan membagi total cicilan per bulan dengan total pendapatan, lalu dikalikan dengan 100%. Sehingga hasil akhir pada perhitungan ini berbentuk persentase.
Dalam hal ini, rasio total cicilan utang dengan gaji atau pendapatan di bawah 35% dinilai sebagai persentase ideal atau aman. Angka ini menunjukkan bahwa keuangan yang bersangkutan cukup sehat untuk melunasi cicilan setiap bulannya dan tidak perlu mengontrol pengeluaran terlalu ketat untuk memenuhi tanggungan cicilan ini.
Sebagai contoh, jika yang bersangkutan memiliki pendapatan per bulan sebesar Rp 10.000.000, maka total cicilan yang perlu dibayarkan kurang lebih sebesar Rp 3.500.000.
Sementara rasio utang terhadap gaji mulai dari 36% hingga 49% yang dinilai kurang ideal. Namun rasio ini mungkin masih bisa ditoleransi. Dengan contoh besaran gaji yang sama, besaran cicilan yang perlu dibayarkan kurang lebih Rp 3.600.000 – 4.900.000.
Jika cicilan utang sudah melewati batas ini, kondisi keuangan mulai masuk ke zona rawan. Risiko gagal bayar pun meningkat, sementara ruang anggaran untuk kebutuhan sehari-hari lainnya semakin menyempit.
Sehingga untuk angka rasio yang mencapai 50% atau lebih dapat dinyatakan kurang ideal. Sebab hal ini membuat kondisi keuangan mengalami masalah yang cukup parah karena tidak seimbang antara utang dan pendapatan.
Akibat rasio yang terlalu besar, yang bersangkutan berpotensi tidak memiliki kemampuan bayar dengan lancar. Hal ini dapat membuat cicilan menunggak dan memperbesar tanggungan di kemudian hari.
Tonton juga video “Bertahan Hidup di Jakarta dengan Side Hustle”
(igo/fdl)