Jakarta –
Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) mendukung langkah pemerintah mengupayakan tarif resiprokal ke Amerika Serikat (AS) lebih rendah mencapai 0% atau di bawah 19% untuk sektor padat karya industri alas kaki.
Direktur Eksekutif APRISINDO Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan, tarif tersebut diharapkan lebih rendah dibandingkan negara pesaing lainnya, terutama Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India dan China. Menurutnya, dampak ekspor alas kaki ke AS dengan tarif 19% dari Agustus sampai dengan September 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan ekspor di angka 23,14%.
“Karena dampak tarif masuk ke US menyebabkan penurunan pesanan tentu ini akan memberikan dampak produktivitas dengan kejadian lay-off yang harus dihindari sangat berat pelaku Industri alas kaki walau ini sudah terjadi di sektor lain seperti tekstil,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (5/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada sektor manufaktur industri padat karya alas kaki tarif Resiprokal fakta info dari Anggota APRISINDO sudah berlaku 19% sejak 7 Agustus 2025, sebelumnya di angka 10%. Sementara April sampai akhir Juli 2025 ekspor cukup waspada yang sebelumnya sempat wacana 32% baik di April dan Juli 2025.
APRISINDO Berharap Tarif AS Lebih Rendah, karena:
1. Kenaikan pengupahan akhir tahun 2025 masih tinggi, Vietnam dua tahun tidak menaikkan upah pekerja
2. Biaya produksi masih tinggi baik harga listrik dan gas, importasi bahan baku, sertifikasi mesin, PPN jasa subcont dan perizinan lainnya
3. Perjanjian Indonesia-IEU-CEPA sebagai perluasan pasar tarif 0% masih proses ratifikasi sampai kuartal I-2027
Belum lagi berbagai biaya di luar produksi yang membebani pelaku industri, sebagaimana relasi tripartit antara pemerintah, pelaku Industri dan pekerja yang diharapkan memiliki mutualisme proteksi yang berkelanjutan.
APRISINDO yakin Pemerintah memiliki perhatian memajukan industri padat karya alas kaki nasional. Maka tujuan APRISINDO mendukung tarif resiprokal US lebih rendah dari negara pesaing untuk menyelamatkan produktivitas serapan tenaga untuk dapat stabil agar industri ini tetap sunrise.
“Karena industri alas kaki menggunakan tangan pekerja langsung yang diharapkan melebihi dari angka data sementara (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian) sekarang kurang lebih 960.000 pekerja sebagai penyangga ekonomi nasional,” tutupnya.
Tonton juga video “Imbas Tarif Trump, Perusahaan Teknologi AS Menuju Kebangkrutan”
(ily/ara)