Depok –
Pemerintah berencana mengekspor beras tahun ini. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat menjadi penguji Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor.
Amran menyebut stok cadangan beras dalam negeri mencapai 3,25 juta ton pada awal 2026. Kemudian, Indonesia akan memasuki musim panen pada Februari hingga April.
Amran mengingatkan Bulog yang berperan mengurus sektor pertanian, termasuk beras pasca panen agar tidak terjadi gagal panen. Sebab, musim panen awal tahun menyumbang produksi nasional terbesar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bulan Februari sampai April, itu adalah produksi 70%. Kalau gagal produksi dari Februari hingga April, gagal Republik ini untuk mengekspor,” ujar Amran di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Senin (5/1/2026).
Untuk mewujudkan ekspor beras, stok cadangan beras Indonesia dinilai perlu melimpah. Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini menyebut kendala teknis yang masih dihadapi Perum Bulog dalam menyerap gabah dari petani, termasuk kesiapan gudang Bulog serta mesin pengering (dryer).
“Terakhir, gudangnya belum ada. Insyaallah kita akan ekspor tahun 2026. Ini adalah sejarah Indonesia, pertama sejarah, selama kita merdeka,” terang Amran.
Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026 yang diolah Badan Pangan Nasional (Bapanas), tercatat stok beras untuk awal tahun 2026 sangat tinggi dan dinilai mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Terlebih sumber stok beras sepanjang 2025 tidak ada yang berasal dari luar negeri.
Stok awal 2026 sebanyak 12,529 juta ton. Ini sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog sebesar 3,248 juta ton. Selain itu, stok beras nasional tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, dan horeka (hotel, restoran, katering).
Torehan 12,529 juta ton stok beras pada awal 2026 meningkat pesat dalam dua tahun terakhir. Tercatat ada peningkatan hingga 203,05 persen terhadap stok awal tahun 2024 yang kala itu berada di angka 4,134 juta ton. Sementara terhadap stok awal tahun 2025 telah meningkat 49,12% karena stok awal 2025 berada di 8,402 juta ton.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani enargetkan kapasitas stok gudang Bulog mencapai 2 juta ton beras hingga semester I-2026. Saat ini, kapasitas gudang Bulog baru mencapai 1,5 juta ton beras.
“Dalam waktu dekat khususnya semester I-2026 ini, minimal kami harus memiliki gudang stok adalah 2 juta ton. Itu sampai bulan di Februari,” ujar Rizal.
Selain itu, Bulog juga akan menyewa gudang TNI dan Polri untuk menyimpan stok beras jika dinilai tak dapat menampung. Ia menyebut gudang-gudang yang dimiliki TNI berkapasitas cukup besar.
Hal ini juga seiring dengan target penyerapan gabah petani oleh Bulog mencapai 4 juta ton setara beras pada 2026. Target penyerapan gabah ini naik dibanding dengan tahun lalu sebesar 3 juta ton.
“Dan gudang-gudang ini apabila nanti memang terpaksa kami tidak dapatkan, kami akan manfaatkan dari TNI Polri gudang-gudang disatukan, dan ini salah satu strategi kami, karena TNI juga memiliki gudang-gudang yang cukup besar, baik TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, bahkan Polri, yang kami manfaatkan gudang-gudang tersebut,” katanya.
Tonton juga video “Prabowo Ungkap Indonesia Sudah Swasembada Beras dalam Setahun”
(rea/ara)