Jakarta –
Perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di Amerika Latin menghadapi ketidakpastian yang lebih besar menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS). Analis menilai bahwa AS berupaya menunjukkan dominasinya di wilayah tersebut.
Sikap waspada ini muncul di tengah semakin agresifnya upaya Negeri Paman Sam untuk membatasi jejak China di sektor sumber daya strategis, infrastruktur, dan perdagangan di Amerika Latin.
“Tidak diragukan lagi bahwa gaya Doktrin Monroe ala Trump secara langsung diarahkan untuk menahan pengaruh China yang terus tumbuh di Amerika Latin,” kata Wang Yiwei, Direktur Institute of International Affairs di Universitas Renmin dikutip dari South China Morning Post, Selasa (6/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wang menambahkan bahwa AS kini menjalankan strategi yang terukur dan berintensitas rendah untuk membatasi pengaruh China di Amerika Latin. Upaya itu dilakukan dengan memperketat kendali atas mineral strategis, jalur pelayaran, serta infrastruktur pelabuhan di negara-negara seperti Venezuela, baik secara langsung maupun melalui perusahaan-perusahaan.
“Ini langkah jelas untuk mengikis pengaruh China dan melemahkan Inisiatif Belt and Road,” tambah dia.
Dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran China di Amerika Tengah dan Selatan meningkat pesat, didorong oleh investasi di sektor energi, pelabuhan, dan mineral strategis. Tren ini semakin membuat China bergesekan dengan AS untuk kembali menegaskan pengaruhnya secara penuh atas urusan kawasan tersebut.
“Dominasi Amerika di belahan bumi barat tidak akan pernah lagi dipertanyakan,” kata Presiden AS Donald Trump dalam konferensi pers setelah Maduro digulingkan.
Tonton juga video “6 Negara yang Keluarkan Travel Warning ke Venezuela”
(rea/ara)