Jakarta -
Pasar keuangan tampak tidak terlalu terpengaruh oleh panasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga Bitcoin (BTC) justru melesat pada Senin (5/1).
Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG ditutup menguat bahkan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah atau All-Time High (ATH) di level 8.859,19 atau naik 1,27%. Pada awal pembukaan, diketahui IHSG berada di level 8.778,73, kemudian menyentuh level terendahnya di posisi 8.732,31.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai konflik AS-Venezuela belum bersifat sistemik terhadap stabilitas pasar keuangan. Di sisi lain, konflik kedua negara tersebut justru memberi sentimen positif terhadap sektor tertentu seperti migas dan minyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Konflik AS-Venezuela lebih berdampak pada sentimen di komoditas seperti minyak dan emas dibandingkan saham secara keseluruhan. Penguatan saham-saham energi dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak sebagai respon dari tensi geopolitik. Sementara emiten emas menjadi sasaran investor untuk berinvestasi di tengah ketidakpastian,” ungkap Reydi kepada detikcom, Senin (5/1/2026).
Meski begitu, Reydi menilai penguatan sektor migas dan emas hanya bersifat jangka pendek. Pasalnya tanpa dukungan fundamental dan tren harga komoditas, tren kenaikan tetap bersifat sementara.
“Kenaikan ini bisa bersifat jangka pendek, keberlanjutannya tergantung dari konflik yang berlarut-larut atau tidak, tanpa dukungan fundamental dan tren harga komoditas, tren kenaikan akibat dari tensi AS Venezuela akan bersifat sementara,” imbuhnya.
Dihubungi terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan konflik AS-Venezuela turut meningkatkan ketidakpastian global yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Ia bahkan menyebut kondisi kerap kali mendorong pergeseran ke aset aman seperti emas.
Meski begitu, IHSG berhasil menguji ketahanannya dengan apresiasi yang ditopang saham-saham berbasis komoditas. Pergerakan IHSG juga turut tersengat sentimen positif dari perilisan data makro ekonomi domestik yang baru saja diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS).
Berdasarkan data BPS, diketahui inflasi Indonesia pada Desember 2025 sebesar 0,64% (month-to-month/mtm) dan 2,92% (year-on-year/yoy). Menurut Nafan, inflasi yang terjadi ini wajar terjadi lantaran ekonomi Indonesia mulai bergeliat jelang perayaan hari besar seperti Imlek dan lebaran.
“Aktivitas konsumsi domestik itu sudah semakin menggeliat, jadi wajar saja karena kita juga menjelang Imlek, menjelang masuk periode bulan suci Ramadhan kemudian lebaran, tentunya domestic consumption tercipta. Belum lagi sebelumnya perayaan Natal dan Tahun Baru. Itu yang membuat inflasi kita naik, jadi wajar,” imbuhnya.
Harga Bitcoin Tembus Rp 1,5 M
Dalam momentum yang sama, meningkatnya eskalasi konflik AS-Venezuela kuat mendorong naiknya harga BTC. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, harga BTC pukul 18.00 WIB berada di level US$ 92.658 atau sekitar Rp 1,55 miliar (asumsi kurs Rp 16.739).
BTC tercatat menguat 1,7% sepanjang perdagangan di 24 jam terakhir. Mata uang kripto ini juga bergerak menguat 6,05% sepanjang perdagangan sepekan terakhir. Kenaikan harga BTC di tengah memanasnya konflik AS-Venezuela disebut hal yang wajar.
Founder dan CEO TRIV, Gabriel Rey, menyebut hal serupa juga terjadi kala memanasnya perang Iran-Israel beberapa bulan lalu. “Kenaikan ini selalu terjadi ketika terjadi perang, mereka (investor) mencari aset yang dianggap aman untuk parkir uangnya. Ini sudah kejadian juga ketika kemarin Iran berperang dengan Israel, harga Bitcoin naik juga,” ungkap Gabriel kepada detikcom.
Secara historis, terang Gabriel, masyarakat Venezuela juga cenderung mengalihkan asetnya ke BTC di tengah terkoreksinya mata uang lokal. Menurutnya, kondisi mencerminkan kepercayaan publik terhadap BTC. Ia bahkan menyebut, harga BTC masih dapat naik hingga US$ 95.000.
“Ketika terjadi devaluasi mata uang yang besar maka parkirnya kalau nggak ke emas, ya ke Bitcoin untuk saat ini. Saya rasa untuk kita di atas US$ 90.000 sangat possible apalagi kita sempat turun US$ 80.000 dan cukup lama ranking di sini dan naik lagi ke US$ 90.000. Menurut saya kita akan sideways di sini antara US$ 90.000 sampai US$ 95.000 sampai terjadinya redcard oleh the Fed,” imbuhnya.
Dihubungi terpisah, Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, mengatakan pergerakan positif harga BTC terjadi karena kembalinya optimisme pelaku pasar kripto. Hal ini terjadi karena siklus empat tahunan BTC yang berhasil dipatahkan pelaku pasar.
“Saat ini kelihatannya memang muncul kembali optimisme dari para pelaku pasar, yang mana ada banyak perkiraan bahwa siklus empat tahunan bitcoin telah patah. Sehingga, muncul optimisme akan adanya potensi perpanjangan tren naik,” ungkap Christopher.
Meski begitu, Christopher mengingatkan adanya ruang pelemahan harga BTC dalam waktu dekat. Pelemahan ini terjadi akibat dorongan aksi ambil untung di tengah meningkatnya harga BTC.
“Menurut saya, tren secara sepenuhnya belum patah, sehingga masih ada peluang terjadi pelemahan harga Bitcoin dalam waktu dekat. Terlebih lagi apabila pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga ini untuk mengambil untung ataupun minimal meminimalisasi kerugian yang sudah mereka tahan untuk beberapa waktu ini,” pungkasnya.
Tonton juga video “Sempat Diprediksi Tembus Level 9.000, Target IHSG Gagal Total!”
Halaman 2 dari 2
(ahi/acd)