Jakarta –
Keberadaan tukang jahit keliling semakin sulit ditemui, terutama di area perkotaan. Namun di balik hiruk-pikuk lalu lintas kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, suara mesin jahit tua masih terdengar pelan namun konsisten di pinggir-pinggir jalan.
Di kawasan itu, tepatnya beberapa meter dari Pasar Lenteng Agung di Jl. Raya Jagakarsa, terlihat cukup banyak penjahit keliling yang mangkal menunggu datangnya pelanggan. Setidaknya detikcom melihat terdapat 15 tukang jahit berjajar mulai dari dekat pasar hingga persimpangan Jl. Jeruk Raya.
Di ruang sempit tepi jalan, di bawah payung lusuh yang hanya memberi perlindungan seadanya dari panas menyengat siang ini, para tukang jahit keliling menggantungkan hidup pada benang, kain, dan mesin jahit tua manual.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dari dulu memang banyak yang mangkal di Lenteng sini, dari ujung ke ujung di sini. Saya ada 8 tahun di sini kayaknya, dari pas masih ada almarhum suami berdua di sini. Ini juga diajarin ngejahit sama almarhum dulu,” kata salah seorang penjahit keliling di dekat Pasar Lenteng Agung, Lasmina (34), kepada detikcom, Senin (5/1/2026).
Sebagian besar pekerjaan yang diterimanya berupa permak pakaian seperti memotong celana, mengecilkan baju, atau mengganti resleting. Namun karena Lasmina bekerja hanya dengan gerobak keliling, ia tidak menerima jasa membuat pakaian jadi dari bahan.
Menurutnya keterbatasan ruang dan peralatan membuat jasa jahit keliling sulit menerima pesanan membuat pakaian dari awal. Meski pelanggan membawa bahan pakaiannya sendiri, proses membuat pakaian jadi memakan waktu dan tenaga yang tidak sebanding dengan upah yang diterima.
“Ya di sini terima permak-permak saja, tukang jahit sini ngerjain yang kayak gitu kan. Bukan yang bikin dari bahan, bukan yang dari nol gitu,” terangnya.
Tarif yang dipatok Lasmina relatif rendah, mulai dari Rp 5.000 untuk reparasi ringan seperti jahit pakaian berlubang. Kemudian untuk jasa permak seperti mengecilkan baju dan celana berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 25.000, bergantung pada ukuran pakaian yang dikerjakan.
Namun di luar itu, menurutnya harga jasa jahit ini juga disesuaikan dengan kondisi pelanggan dan persaingan antar tukang yang kian padat. Sehingga harga ini tak bisa dijadikan sebagai patokan.
“Kalau cuma bolong-bolong itu Rp 5.000 rata-ratanya. Tapi kalau sudah pakai tambel-tambel kan, ada yang Rp 10.000, ada yang Rp 15.000, tergantung lebarnya, sih. Tapi rata-rata Rp 5.000,” ucapnya.
“Kalau potong celana Rp. 10.000, potong gamis Rp 15.000, ganti seleting celana Rp 15.000, ganti seleting jaket Rp 20.000 kayak gitu. Kalau yang ngecilin gitu paling banyak ada yang Rp 15.000, ada yang Rp 20.000, ada yang Rp 25.000. Tanya satu-satu pasti beda-beda harganya, ada yang Rp 10.000, ada yang Rp 15.000, kan,” jelas Lasmina lagi.
Kondisi serupa juga dirasakan Heri (33), penjahit keliling lain yang telah mangkal di Lenteng Agung sejak 2019. Sebelumnya ia sudah menjadi penjahit keliling sejak 2011, namun saat itu dirinya belum mangkal di sudut Jl. Raya Jagakarsa seperti sekarang.
Pria yang sudah menjahit selama 15 tahun itu sebagian besar juga hanya menerima pekerjaan berupa permak pakaian seperti memotong, mengecilkan, atau mengganti resleting. Sementara jasa menjahit pakaian jadi dari awal tidak dilakukannya.
“Kalau bikin gitu pada nggak terima di sini. Bisa sih bisa tapi kadang nggak terima, lama waktunya kan, mending yang kayak gini reparasi doang,” ucapnya.
Adapun jasa jahit yang ditawarkannya juga berkisar dari Rp 5.000 hingga Rp 35.000, tergantung pada permintaan dan jenis reparasi pakaian yang dilakukan. Harga ini menurutnya tidak jauh berbeda dengan para penjahit keliling lainnya, meski harga tak pasti sama.
“Paling kalau rombak total Rp 35.000 satu baju itu, semua itu, mau celana atau baju kalau rombak total bisa sampai Rp 35.000. Kalau jahit-jahit biasa gitu misalnya ada bolong-bolong ya paling Rp 5.000. Kalau potong paling Rp 10.000, kaya celana gitu. Tapi tergantung lebar, kaya gamis kan lebar-lebar, paling Rp 15.000 buat potong gamis,” terang Heri.
Tonton juga video “Tukang Jahit di Pekalongan Kaget Didatangi Petugas Pajak soal Transaksi Rp 2,9 M”
(igo/fdl)